Bertualang ke Maldives Day 1

Bertualang ke Maldives Day 1

Minggu ( Day 1)

Pesawat kami terjadwal jam 11.50 WIB, tapi berhubung tidak bisa di prediksi nya arus lalu lintas menuju bandara Soekarno Hatta maka saya dengan teman-teman sepakat untuk berangkat ke bandara lebih awal, setidaknya 4 jam sebelumya, malah ada yang berniat berangkat sehabis subuh.

Akhirnya kita semuanya baru berangkat jam 7.30 an dari masing-masing rumah. Saya dari Bogor, yang lain dari Bekasi, Tengerang dan Jakarta. Kalau hari biasa 2 jam adalah waktu normal untuk menempuh perjalanan ke bandara sehingga saya selalu spare waktu 3 jam untuk perjalanan ke bandara. Tapi Alhamdulillah perjalanan pagi ini hanya butuh waktu 1 jam saja. Saya sedikit kaget juga sehingga ketika sampai di bandara Soekarno Hatta Terminal 3 ultimate waktu baru menunjukan jam 8.30 dan loket cek in baru dibuka untuk penumpang yang berangkat pagi hari.

Kali ini tunggangan kami adalah Scoot air, pesawat low cost seperti Airasia langganan kami sebelumnya. Penerbangan ini akan transit di Singapore beberapa jam sebelum melanjutkan penerbangan ke Male, ibukota negara Maldives atau yang kita kenal dengan sebutan Maladewa.

Rombongan kami kali ini terdiri dari 11 orang dimana 2 diantaranya adalah remaja yang ikut dengan orang tuanya. Sambil menunggu loket cek in buka untuk jam penerbangan kami saya duduk di tempat duduk di row D menunggu teman-teman lainnya yang belum datang.

Beberapa saat kemudian satu persatu teman-teman datang, namun belum semuanya sehingga sambil menunggu lengkap kami yang cowok-cowok ngopi bareng dulu di salah satu kedai kopi di bandara itu. Secangkir kopi cukup 40 ribu saja. Hiks..

Setelah lengkap semuanya kami kemudian cek in di loket Scoot air. Sudah banyak yang antri di depannya. Walaupun kami hanya membawa koper ukuran kabin dan tidak ada yang masuk bagasi petugas tetap menyuruh untuk menimbang setiap koper kita dan bila beratnya tidak melebihi batas akan diberikan tali sebagai cabin tag. Untunglah semua tidak ada yang kelebihan bagasi, karena Scoot air memberikan berat koper kabin yang lumayan besar yaitu 10 kg per orang.

Urusan cek in selesai dan setiap orang sudah mendapatkan dua buah boarding pass , yaitu boarding pass Jakarta – Singapore dan pass leg Singapore – Male sehingga setiba di Singapore kami tidak perlu lagi cek in ulang.

Terminal 3 ultimate sepertinya berupaya mensejajarkan diri dengan bandara-bandara kota-kota besar lainnya di dunia. Dan saya kira memang itu sudah seharusnya. Luasnya sudah menyamai bandara KLIA2 di Kuala Lumpur dan Changi di Singapore. Jalan menuju gatenya bikin capeek…hehe..

Kami dapat gate paling ujung. Gate 10 kayaknya.

Sesuai jadwal kami boarding ke dalam pesawat. Perjalanan lancar dan mendarat di Changi Airport Singapore jam 12.50 waktu singapore. Disana kami segera mencari tempat duduk langganan yaitu di food court belakang sebuah taman di bandara itu. Disana ada jual bermacam-macam makanan yang setengahnya bisa diterima selera makan orang Indonesia seperti kami ini. Contohnya disana tersedia nasi lemak, nasi goreng dan laksa. Sehabis makan sebagian teman-teman dan saya melaksanakan sholat di pray room bandara yang juga tidak begitu jauh tempatnya.

Sesuai jadwal pesawat berikutnya kami segera menuju gate dimana Scoot air tujuan male akan boarding.

Tapi ketika semua penumpang sudah masuk ke pesawat,  lama kemudian pesawat belum juga terbang. Para penumpang berusaha tenang, dan pramugari pun tetap bersikap tenang. Namun kemudain kami bertanya-tanya apa penyebab pesawat belum juga berangkat. Berkali-kali pilot membuat pengumuman yang menyatakan bahwa pesawat akan segera terbang, tapi tetap tidak ada informasi kenapa pesawat belum berangkat juga. Apakah karena antiran take off atau sebab lain. Kami semua berusaha tenang dan dalam hati memanjatkan doa untuk keselamatan perjalanan ini.

Lebih dari setengah jam kemudian baru pesawat bergerak menuju landasan pacu. Dan tidak lama setelah itu pesawat take off menuju Male.

Ukuran kursi yang benar-benar ekonomis cukup membuat kaki saya pegal-pegal. Saya mau merendahkan sandaran kursi tapi teringat teman yang dibelakang nantinya kejepit sehingga niat itu terhenti. Belum lagi pramugari yang sebentar-sebentar menyuruh menegakan sandaran kursi bila ada pengumuman dari sang pilot.  Saya hanya sekali ke toilet selama perjalanan ini, dan niatnya sebenarnya hanya ingin menggerakan badan karena rasa pegal yang tidak tertahankan lagi.

Di perkirakan perjalanan ini membutuhkan waktu 4 jam. Dan jam di Maldives adalah lebih lambat 2 jam dibandingkan dengan waktu Indonesia.

Hampir jam 9 malam waktu Maldives pesawat mendarat di bandara internasional Velana. Padahal saya sudah berjanji dengan penjemput dari hotel bahwa kami akan mendarat jam 8 an. Jadi kalau di hitung hampir sejam mereka menunggu saya sejak jam sesuai perjanjian sebelumnya.

Tapi untunglah ketika urusan imigrasi selesai dan kami keluar dari pintu kedatangan seorang gadis yang mempelihatkan foto saya menyambut kedatangan rombongan kami. Gadis itu merupakan tim penyambut kedatangan tamu hotel kami yang bertugas mentransfer kami ke private boat yang stand by di depan bandara. Jadi bandara Velana ini berbentuk sebuah pulau sehingga bila akan meninggalkan bandara otomatis para penumpang harus menaiki boat atau kapal ferry menuju hotel mereka yang juga berada di pulau-pulau.

Malam pertama ini kami tidak akan bermalam di resort tempat tujuan kami. Di karena mahalnya biaya tinggal di resort-resort berbintang empat dan lima di Maldives ini maka kami hanya akan bermalam satu malam saja di salah satu resort. Malam pertama dan terakhir kami memilih tinggal di hotel yang berada di pulau berpenduduk asli Maldive., bukan di pulau resort yang sifatnya privat tanpa ada penduduk lain selain petugas hotelnya.

Nama pulau itu adalah Maafushi Island.

Ketika kami sampai di pinggir pantai si gadis mengantar kami ke sebuah speedboat yang terparkir di sana. Kami cukup masuk ke dalam speedboat dan memilih bangku yang nyaan sementara tas-tas kami akan di urus oleh awak boat sampai nanti di hotel tujuan.

Dan di tengah malam diiringi lampu-lampu bandara dan lampu-lampu dari kota Male di kejauhan boat kami meninggalkan bandara menuju kegelapan di tengah laut dan perlahan-lahan kerlipan lampu-lampu bandara dan kota Male semakin kecil dan perjalanan kami membelah laut hanya ditemani kerlap-kerlip bintang di langit.

Here we come Maldives…..

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *